CEO PT Oriente Mas Sejahtera (FINMAS) Peter Lydian Sutiono : Kami Ingin Menjadi Role Model | Finmas - Sahabat Finansial Indonesia
CEO PT Oriente Mas Sejahtera (FINMAS) Peter Lydian Sutiono : Kami Ingin Menjadi Role Model

CEO PT Oriente Mas Sejahtera (FINMAS) Peter Lydian Sutiono : Kami Ingin Menjadi Role Model

25/02/2019

Di tengah persaingan yang semakin kompetitif, PT Oriente Mas Sejahtera (Finmas) terus berinovasi untuk kepuasan konsumen dan menjadi perusahaan platform pinjaman online terkemuka di Indonesia. Guna menggali lebih jauh mengenai rencana ekspansi usaha, Bisnis berkesempatan mewawancarai CEO Finmas Peter Lydian Sutiono. Berikut petikannya:

Bagaimana ide awal pendirian Finmas?

Kami melihat bahwa yang pertama potensi ekonomi Indonesia masih besar sekali. Namun, kendala terbesar dalam mengembangkan potensi tersebut ialah memberikan akses finansial bagi masyarakat. Akses finansial bagi masyarakat ternyata masih belum banyak, baru sekitar 2%—3% dari penduduk Indonesia. Oleh karena itu, Finmas masuk karena kami hendak mendorong supaya dengan teknologi, kami bisa memberikan akses finansial kepada orang-orang yang tidak tercover.

Siapa target pasar utama yang dituju?

Yang hendak kami bantu adalah yang underbanked dan unbanked. Setiap orang itu sebenarnya punya dua profil misalnya sebagai individu dan sebagai pebisnis. Kalau bicara konteks akses finansial, rerata dari jumlah 260 juta penduduk Indonesia, yang punya akun bank sekitar 50% lebih. Namun, yang punya akses kredit atau pemegang kartu kredit ternyata angkanya tidak besar, hanya sekitar 3%. Artinya, dari total 50% penduduk yang punya akun bank ini masih ada yang belum tercover atau underbanked. Mereka ini punya dua profil yaitu sebagai individual atau pebisnis. Setelah itu, ada juga segmen yang tidak punya akun bank atau unbanked. Saat ini, kami menyasar yang underbanked, tetapi syukur-syukur juga bisa ke unbanked.

Apa perbedaan produk yang ditawarkan untuk segmen individu dan pelaku usaha?

Produk untuk segmen individu dan bisnis sebenarnya mirip-mirip. Ada dua hal yang harus diperhatikan kalau kita bicara produk finansial. Pertama, kita bicara yang sifatnya emergency atau sesuatu yang tidak terencana. Kedua, sesuatu yang memang sudah direncanakan. Perbedaannya apa? Kalau emergency ini biasanya jika tiba-tiba ada keluarga yang sakit, atau mesin yang digunakan untuk bekerja rusak sehingga perlu segera diperbaiki. Kedua persoalan ini butuh dana, dan itu bentuknya adalah pinjaman.

Lalu, kita bicara untuk konsumsi yang terencana, misalnya mau belanja ponsel sehingga pembeliannya bisa melalui cicilan. Kalau untuk konteks bisnis, salah satu yang terencana adalah modal kerja. Ini juga bisa dalam bentuk cicilan. Artinya, kami masuk ke pembiayaan produktif dan konsumtif. Yang perlu dipahami, kalau bicara pembiayaan konsumtif dan produktif, kita kadang lupa segmennya, sehingga dianggap [bisnisnya] bertabrakan dengan bank. Padahal tidak, karena kami mengincar [segmen] yang underbanked.

Adakah rencana untuk ekspansi produk?

Saat ini kami sudah ada dua produk, yaitu produk untuk individu dan untuk warung atau pebisnis. Pada bulan ini, produknya akan berevolusi lagi. Mengenai lini produk yaitu untuk konsumsi yang terencana. Kami melihat bahwa bagaimana kita bisa mencicil apa yang dibeli orang? Contohnya, kami sudah ada di Ramayana dan akan masuk ke beberapa gerai ritel lainnya. Jadi, cicilan yang mau kami dorong ialah untuk barang kebutuhan sehari-hari. Namun, untuk detail produknya belum bisa kami berikan saat ini.

Adakah rencana menggandeng bank sebagai mitra?

Kami sekarang sedang aktif untuk mencari mitra, termasuk mitra bank. Kerja samanya baik untuk pendanaan, dan bank juga butuh untuk mengembangkan dari sisi akun baru. Bank juga punya keterbatasan untuk beroperasi. Dengan demikian, ada banyak hal yang bisa disinergikan, tidak hanya pendanaan. Saat ini, kami masih membahas rencana kerja sama dengan beberapa bank dan responsnya positif sekali.

Di mana posisi Finmas sebenarnya, di Sinarmas?

Kami sangat diberkati dapat dukungan dari Sinarmas pada awalnya. Sinarmas membantu kami melahirkan Finmas. Pada saat awal pendirian kami membangun tim, platform, dan sebagainya, itu dibantu pendanaan dari Sinarmas. Pada awal 2019, ada partnernya Sinarmas yang masuk 85% ke Finmas, dan partnernya itu adalah Oriente. Dengan demikian, Sinarmas posisinya adalah investment, tetapi juga memberikan dukungan untuk pengembangan bisnis, karena Sinarmas punya aset yang luar biasa besar. Dari perspektif Oriente, ini adalah perusahaan global yang besar. Mereka basisnya perusahaan teknologi murni dan ini bisa membantu kita untuk mencapai visi kami pada akhirnya. Artinya, Finmas ini bukan subsidiary-nya Sinarmas, melainkan mitra.

Dengan dukungan Sinarmas, apakah nantinya pendanaan lebih mengandalkan institusi ketimbang ritel?

Kalau bicara investor, ini berkaitan dengan 2 faktor, yaitu yield dan risiko. Kami tetap konsisten untuk mencari investor yang melek risiko. Setiap investasi ada risikonya, sehingga kami tidak membatasi investor dari mana pun baik dari institusi, korporasi, maupun individu.

Kami cenderung lebih selektif untuk memilih investor yang melek risiko. Kami memang punya perspektif yang berbeda. Sebagai peer-topeer lending, kami punya tanggung jawab yang besar sekali kepada lender dan borrower. Bisnis finansial ini berbasis trust, sehingga kepercayaan dari lender ataupun borrower itu harus kami jaga.

Apa saja aspek yang harus diperhatikan untuk menjaga kepercayaan tersebut?

Kami maunya Finmas menjadi role model di industri ini. Dari perspektif beberapa hal, yaitu mengenai trust. Kami harus menjadi organisasi yang membangun trust yang baik dengan berbagai stakeholder. Hal lain yang harus dijaga dari sisi investor adalah pengembalian dari borrower. Dari sisi borrower yang dijaga adalah keamanan data. Dari sisi collection juga harus dilaksanakan dengan benar. Oleh sebab itu, kami kerja sama dengan AFPI [Asosiasi Finech Pendanaan Bersama Indonesia] untuk mendorong sertifikasi untuk collectors.

Apakah regulasi yang ada saat ini sudah cukup optimal mendorong industri ini?

Pasti ada plus dan minus, tetapi kalau dibandingkan dengan beberapa negara lainnya, khususnya di Asia Tenggara, kita harusnya bangga dengan regulatornya Indonesia. Dari perspektif regulator, inovasi selalu diikuti risiko. Sebagai pejabat biasanya risiko adalah hal yang paling dihindari, tetapi kalau menghindari risiko, tidak akan ada inovasi.

Saya bisa melihat pejabat kita di OJK [Otoritas Jasa Keuangan] cukup berani mengambil risiko, yaitu persepsi, dan sebagainya. Jadi hal itu perlu dihargai, karena saya tidak melihat hal ini di negara lain. Bisa dilihat aturan di negara lain itu bisa dikatakan stuck, atau tidak secepat Indonesia. Regulator juga tidak mengatur dengan sangat ketat, tetapi terus diawasi. Begitu ada perkembangan baru, maka langsung dibuat aturannya.

Bagaimana strategi perusahaan untuk menghadapi ketatnya persaingan di industri P2P lending?

Pertama, untuk membuka semua potensi Indonesia ini terlalu besar untuk dikerjakan sendirian. Justru saya senang banyak pemain lain yang masuk ke industri ini, karena hanya bersama kita bisa mendorong standar industri, dan memacu inovasi. Kami juga saling berkolaborasi untuk memajukan industri. Dalam hal kompetisi, kami berlomba untuk saling berinovasi, dan itu merupakan hal yang positif.

Selain itu, di dalam industri ini ada dilema dari pelaku industrinya, apakah sebagai perusahaan finansial atau perusahaan teknologi? Finmas dengan jelas menyatakan bahwa kita adalah perusahaan teknologi yang menyediakan financial services. Dari sisi produk, kecepatan kami meluncurkan produk ini juga sangat luar biasa. Saat ini, produk yang mempunyai produk yang end-to-end dalam sebuah platform, bisa dibilang kami memimpin. Selain itu, kami juga sudah mendapatkan sertifikasi ISO.

Apa tantangan utama yang dihadapi industri ini?

Sebenarnya ada banyak. Misalnya yang pertama adalah membangun produk tidaklah mudah. Kalau bicara mengenai leadership dan orang-orang yang paling mampu, kami membangun perusahaan ini mulai dari tidak ada karyawan, hingga saat ini kami sudah punya 350 karyawan hanya dalam waktu yang singkat.

Ke depan, kami targetkan bisa meningkatkan jumlah karyawan menjadi 1.000 orang. Jadi, membangun tim dengan latar belakang orang yang berbeda-beda untuk mencapai sebuah tujuan ini juga menjadi tantangan.

Bagaimana strategi Anda untuk pengembangan SDM?

Ada banyak komponen untuk pengembangan SDM, tetapi eksekusinya sangat bergantung pada leadership. Di dunia teknologi ini geraknya cepat sekali, sehingga kami dari awal cari orang yang kuat dan terbaik di bidangnya masing-masing. Sama halnya seperti membentuk Avengers.

Kemudian, kami perlu paham bahwa ujung-ujungnya yang melayani masyarakat ialah lapisan kita yang di bawah. Dengan demikian, membentuk kultur di bawah ini sangat penting sekali. Untuk memberikan contoh kultur yang positif, harus dimulai dari atas dahulu. Selain itu, dunia teknologi ini sangat cepat perkembangannya, sehingga organisasi kami harus terus belajar. Mungkin sekarang SDM kami ada di depan, tetapi belum tentu ke depannya kami masih di depan. Oleh karena itu, sangat penting untuk kami terus belajar, dan jangan merasa yang paling mengetahui segalanya.

Bagaimana Anda menggambarkan gaya kepemimpinan Anda?

Sebagai seorang pemimpin kita harus empower, tetapi tetap kontrol. Kemudian, penting untuk menempatkan diri bahwa kita adalah organisasi yang masih belajar. Dengan demikian, sebagai pimpinan perlu untuk mendorong setiap organisasi untuk mau belajar dan maju lagi.

Sumber : Bisnis Indonesia (Senin, 25 Februari 2019)

 

PERHATIAN